SEJARAH

Sejarah desa ini mulanya didiami oleh penduduk Langowan dari [desa Atep], tapi karena wilayah ini berada di wilayah Ratahan maka penduduk Ratahan mengambil alih pemukiman ini. Daerah sekitar desa Atep Palamba Wongkay Wiau merupakan lokasi Pemukiman kuno, yang dimana dimakamkan Dotu Lumimuut sekitar abad II - V Masehi, desa tua ini sudah ditinggalkan oleh sebab peperangan dan bahaya yang mengancam penduduknya, baik bajak laut [Mindanao], [Moro].
Wongkai, salah satu desa tertua yang ada di Minahasa Tenggara, memiliki struktur permukaan perbukitan yang dikelilingi oleh 5 desa, Pangu, Atep, Palamba, Wiau dan Wioy. Perkebunan yang beranekaragaman menjadi modal utama masyarakat disana, sebut saja Cengkih, Langsa, Rambutan dan Salak yang cukup banyak terbentang disekitar area desa Wongkai.
Tanggal 9 Juli menjadi tanggal yang sangat bersejarah bagi masyarakat wongkai. Sejarah mencatat bahwa 9 Juli 1869 adalah hari lahirnya desa Wongkai. Menurut salah satu versi nama Wongkai diambil dari
perubahan perkembangan dari perkawinan 2 (dua) kata dasar “wung” dan “kakai”. “Wung” adalah warna saripati pohon enau(ungu muda) – dan “kai” yang berasal dari”Kakai” yaitu sapu yang terbuat dari bahan lidi daun dan ijuk pohon enau.
Disekitar tahun 1860-an, sekelompok kecil masyarakat yang berasal dari dari desa/kampung Lowu “distrik Bawahan Ratahan waktu itu, mengadakan perladangan berpindah-pindah. Dari perbatasan bagian utara wilayah Ratahan dengan Distrik Kakas, sekarang ini Desa Pangu kemudian ke arah Timur Laut sehigga tiba dan sekaligus mengadakan perkebunan di lokasi yang sekarang ini bernama Desa Wongkai.
Saat perintisan/pembukaan ladang di daerah ini, petani kehabisan bahan makanan dan sambil menunggu bahan makanan dari Desa Lowu, para petani berinisiatif mengambil sari pati pohon enau. Ternyata saripa
ti sagu enau maupun air sekitar endapannya berwarna ungu muda yang dalam bahasa Pasan Ratahan “Wung”.
Demikian pula lidi daun enau dijadikan sapu yang dalam bahasa leluhur Pasan Ratahan “kakai”.
Perang saudara antar keturunan Lumimuut kemudian dapat didamaikan dan berakhir dengan musyawarah di Pinawetengan. Yang mendeklarasikan persatuan, kebersamaan membangun pemerintahan demokrasi, setiap warga berdiri sederajad. [Suku Tountemboan] berdiam disebelah selatan Pinawetengan kemudian dibeberapa abad sekelompok keluarga terus keselatan mendiami dataran Ratahan. Kelompok ini kemudian didatangi kelompok pendatang dari luar pulau mereka bersama-sama membangun Suku yang kemudian dikenal Pasan Ponosakan. Pada abad XIII-XV perairan timur khususnya sekitar bentenan sering diserang musuh dalam memperebutkan pelabuhan Bentenan sebagai benteng pertahanan menjadi sasaran empuk bajak laut merampok karena banyaknya pedagang disini, itu sebabnya Palamba menjadi daerah pertempuran, penduduknya mundur kedaerah [Ratahan] dan [Langowan] untuk melakukan pertahanan bersama dengan pasukan daerah lainnya. Kemudian sekitar abad ke XVI, keturunan dari Toar Lumimuut dari Ratahan, dimasa ini datang beristirahat di Palamba yang waktu itu sudah menjadi hutan rimba, dimana tempat ini menurut anggapan mereka cukup baik dan menyenangkan. Untuk tempat beristirahat mereka mendirikan gubuk dari batang pohon kayu dan daun-daunan. Lama kelamaan untuk memenuhi bekal makanan, mereka mulai membuka perkebunan/huma di tempat itu. Sehingga lama-kelamaan perkebunan itu makin luas dan orang-orang yang bermukim di situ makin bertambah. Dengan semakin bertambah penduduknya, maka sebagaimana tradisi orang Minahasa dalam suatu perhimpunan penduduk yang sudah cukup banyak, diperlukan seorang pemimpin. Dan oleh karena itu pada sekitar tahun 1600 sampai pada tahun-tahun berikutnya pemukiman tersebut telah dipimpin oleh para Tonaas, yang menguasai sampai perkebunan Wongkay Sehingga dapat dipastikan bahwa desa Wongkay merupakan salah satu desa tua di Minahasa Tenggara. Ini juga dapat dibuktikan dengan adanya waruga (kuburan tua/prasasti) Toar Lumimuut yang ada di sana, dan merupakan tempat pertama orang-orang yang masuk dan menetap di Langowan.(Baca Selengkapnya dalam Buku Sejarah [desa Wongkay] oleh [David DS Lumoindong]).
Semua wilayah di Indonesia termasuk Desa-desa dalam hal ini di Wilayah Kabupaten Minahasa Teggara, Kecamatan Ratahan Timur mulai mengadakan pemekaran desa dimana pada tanggal 28 April 2011 Desa Wongkai terbagi menjadi Dua Desa yaitu Desa Wongkai dan Desa Wongkai Satu. Desa Wongkai Satu di pimpin oleh Pjs. Bpk. Juin Antou dan kemudian mengadakan pemilihan Hukum Tua definitif dan Bpk. Eiler Antou terpilih sebagai Hukum Tua Definitif Desa Wongkai Satu.
Pada tahun 2011 desa Wongkay telah memekarkan diri menjadi dua desa yaitu desa Wongkay dan desa Wongkay Satu.
Untuk mengenang hari lahirnya desa Wongkai, masyarakat membangun satu tugu bernama Monumen Pasak Wanoa pada tanggal 9 Juli 1988 yang diresmikan oleh Camat Ratahan pada waktu itu, G.Moningka, BA. Salah satu keunikan tugu ini yaitu terdapatnya semua nama-nama Kepala Desa desa Wongkai.


Pemerintah Desa
Para Kuntua (Kepala desa) yang memerintah desa Wongkay pada saat belum dimekarkan menjadi desa Wongkay dan desa Wongkay satu diantaranya : Bpk Ibrahim Sam Kawuwung, Bpk. Wempi Kosakoy, Bpk.Welly Kosakoy, Bpk. Setly Tarumingi. Kini berturut turut Kuntua desa Wongkay satu adalah : 1. Juin Antou sejak tahun 2011-2011 2. Eiler Antou sejak tahun 2011-kini
Jaga (Lingkungan)
Kecamatan Ratahan Timur terdiri atas 4 Jaga berikut:
- Jaga 1, Wongkay Satu
- Jaga 2, Wongkay Satu
- Jaga 3, Wongkay Satu
- Jaga 4, Wongkay Satu
Desa ini memiliki penduduk sebesar xx1... jiwa dan luas yy2... km2.
Desa ini dialiri air [Sungai Makalu] yang cukup deras sehingga dapat membuat daerah muara sungai kebanjiran akibat meluap setelah hujan deras yang contohnya terjadi September 2011 yang menyebabkan 20 rumah hanyut, desa desa rusak berat. sekalipun curah hujan masih tergolong normal tapi air kiriman dari tempat lain yang masuk ke Sungai Makalu. Sungai sudah tak mampu menampung air, sehingga meluap. Sungai Makalu dapat menjadi tempat [Wisata] [Arung Jeram], juga sudah sempat digunakan oleh para olahragawan arung jeram.
Desa Wongkay yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Desa Pangu desa yang berdekatan dengan pusat kabupaten [Kecamatan Ratahan Timur] disebutkan Bupati Minahasa Tenggara sebagai titik terparah terkena semburan abu vulkanik Soputan 2011 selain [Pangu] dan [Kalatin].
Desa ini memiliki tim musik bambu yang telah turun dari generasi ke generasi menjuarai lomba musik bambu tradisional, bahkan menjadi juara saat lomba tingkat nasional. Juga terdapat Grup tari tradisional Katreli. Kelompok tani MAKALU menjadi kelompoki tani yang memiliki prestasi yang diakui secara nasional yaitu Gapoktan Makalu desa Wongkay dalam mengelola Produk [VCO] Gapoktan Makalu.









